1_ Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Préparation du document






DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
i
ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Pengertian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 2
C. Landasan Pedagogis Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 5
D. Fungsi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 7
E. Tujuan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 7
F. Nilai-Nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 7
BAB II : PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN
KARAKTER BANGSA MELALUI INTEGRASI MATA
PELAJARAN, PENGEMBANGAN DIRI, DAN BUDAYA
SEKOLAH
A. Prinsip dan Pendekatan Pengembangan Pendidikan Budaya dan
Karakter Bangsa 11
B. Perencanaan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa 14
C. Pengembangan Proses Pembelajaran 19
D. Penilaian Hasil Belajar 22
E. Indikator Sekolah dan Kelas 23
BAB III : PETA NILAI DAN INDIKATOR
A. Nilai, Jenjang Kelas, dan Indikator 31
B. Peta Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Berdasarkan Mata Pelajaran 41
C. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Nilai, dan Indikator
Mata Pelajaran 48
BAB IV : INTEGRASI NILAI-NILAI BUDAYA DAN KARAKTER
BANGSA KE DALAM DOKUMEN KTSP 81
PENUTUP 101
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
i
ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Pengertian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 2
C. Landasan Pedagogis Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 5
D. Fungsi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 7
E. Tujuan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 7
F. Nilai-Nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa 7
BAB II : PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN
KARAKTER BANGSA MELALUI INTEGRASI MATA
PELAJARAN, PENGEMBANGAN DIRI, DAN BUDAYA
SEKOLAH
A. Prinsip dan Pendekatan Pengembangan Pendidikan Budaya dan
Karakter Bangsa 11
B. Perencanaan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa 14
C. Pengembangan Proses Pembelajaran 19
D. Penilaian Hasil Belajar 22
E. Indikator Sekolah dan Kelas 23
BAB III : PETA NILAI DAN INDIKATOR
A. Nilai, Jenjang Kelas, dan Indikator 31
B. Peta Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Berdasarkan Mata Pelajaran 41
C. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Nilai, dan Indikator
Mata Pelajaran 48
BAB IV : INTEGRASI NILAI-NILAI BUDAYA DAN KARAKTER
BANGSA KE DALAM DOKUMEN KTSP 81
PENUTUP 101
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT serta dukungan dan partisipasi berbagai pihak
akhirnya Naskah Pedoman Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa telah rampung.
Naskah ini merupakan salah satu hasil dari program 100 hari yang diamanahkan kepada
Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional Kabinet Bersatu II.
Kebijakan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dicanangkan berdasarkan masukan
dari Masyarakat, pengembangan telah dilakukan bersama oleh Badan Penelitian dan
Pengembangan dan beberapa Unit Utama di lingkungan Kementrian Pendidikan Nasional
serta kantor Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Upaya yang telah dilakukan
masyarakat dan lembaga terkait berupa pemikiran tentang pendidikan nilai, moral, dan
karakter bangsa telah dikembangkan dan dilaksanakan dalam skala yang manageable
sesuai dengan kemampuan lembaga terkait dan dukungan kebijakan pemerintah. Pada saat
sekarang, kebijakan pemerintah merupakan bukan saja dukungan tetapi juga unsur yang
berperan aktif dalam pengembangan budaya dan karakter bangsa.
Berdasarkan kajian terhadap masukan dari masyarakat baik melalui media massa, seminar,
sarasehan, kajian literatur, maupun upaya langsung dalam melaksanakan pendidikan nilai,
moral, budaya, dan karakter, Badan Penelitian dan Pengembangan menyusun naskah
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Pikiran tentang Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa yang tercantum dalam naskah yang ada di hadapan para pendidik dan peminat
pendidikan ini merupakan pikiran yang bersifat praktis dan dapat dilaksanakan dalam
suasana pendidikan yang ada di sekolah pada saat sekarang. Meskipun demikian,
pelaksanaan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa memerlukan berbagai perubahan
dalam pelaksanaan proses pendidikan yang terjadi di sekolah pada saat sekarang.
Perubahan yang diperlukan tidak mengubah kurikulum yang berlaku tetapi menghendaki
sikap baru dan keterampilan baru dari para guru, kepala sekolah dan konselor sekolah.
Sikap dan keterampilan baru tersebut merupakan persyaratan yang harus dipenuhi (condito
sine qua non) untuk keberhasilan implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
Perubahan sikap dan penguasaan keterampilan yang dipersyaratkan tersebut hanya dapat
dikembangkan melalui pendidikan dalam jabatan yang berfokus, berkelanjutan, dan
sistemik.
Karakter sebagai suatu moral excellence atau akhlak dibangun di atas berbagia kebajikan
(virtues) yang pada gilirannya hanya memilikimakna ketika dilandasi atas nilai-nilai yang
berlaku dalam budaya (bangsa). Karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang dimiliki
warga Negara Indonesia berdasarkan tindakan-tindakan yang dinilai sebagai suatu
kebajikan berdasarkan nilai yang berlaku di masyarakat dan bangsa Indonesia. Oleh karena
itu, Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa diarahkan pada upaya mengembangkan nilainilai
mendasari suatu kebijakan sehingga menjadi suatu kepribadian diri warga Negara.
Berbeda dari materi ajar yang bersifat mastery, sebagaimana halnya suatu performance
content suatu kompetensi, materi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa bersifat
developmental. Perbedaan hakekat kedua kelompok materi tersebut menghendaki
perbedaan perlakuan dalam proses pendidikan. Materi pendidikan yang bersifat
developmental menghendaki proses pendidikan yang cukup panjang dan bersifat saling
menguat (reinforce) antara kegiatan belajar dengan kegiatan belajar lainnya, antara proses
belajar di kelas dengan kegiatan kurikuler di sekolah dan di luar sekolah.
Disamping persamaan dalam kelompok, materi belajar ranah pengetahuan (cognitive) yang
dalam satu kelompok developmental dengan nilai, antara keduanya terdapat perbedaan
yang mendasar dalam perencanaan pada dokumen kurikulum (KTSP), silabus, RPP, dan
proses belajar. Materi belajar ranah pengetahuan dapat dijadikan pokok bahasan sedangkan
materi nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa tidak dapat dijadikan pokok
bahasan karena mengandung resiko akan menjadi materi yang bersifat kognitif. Oleh
karena itu, dalam pengembangan materi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa sikap
menyukai, ingin memiliki, dan mau menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai dasar bagi
tindakan dalam perilaku kehidupan peserta didik sehari-hari merupakan persyaratan awal
yang mutlak untuk keberhasilan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
Proses Pembelajaran Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dilaksanakan melalui proses
belajar aktif. Sesuai dengan prinsip pengembangan nilai harus dilakukan secara aktif oleh
peserta didik (dirinya subyek yang akan menerima, menjadikan nilai sebagai miliknya dan
menjadikan nilai-nilai yang sudah dipelajarinya sebagai dasar dalam setiap tindakan) maka
posisi peserta didik sebagai subyek yang aktif dalam belajar adalah prinsip utama belajar
aktif. Oleh karena itu, keduanya saling memerlukan.
Selain sebagai pedoman untuk pelaksanaan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa,
naskah ini dilengkapi juga dengan indikator sekolah dan indikator kelas yang dianggap
kondusif dalam penerapan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Kepada guru, kepala
sekolah, konselor sekolah dan pengawas dapat menggunakan indikator tersebut sebagai
pedoman dalam mengembangkan dan menilai budaya sekolah yang kondusif untuk
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
Semoga naskah ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh guru, kepala sekolah, konselor
sekolah, pengawas dan pihak lain yang terkait.
Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan
berpartisipasi dalam penyusunan naskah ini. Kami doakan semoga semua dukungan dan
partisipasi berupa pikiran, tenaga, waktu dan materi bernilai ibadah di sisi Tuhan Yang
Maha Kuasa. Amin.
Jakarta, Januari 2010
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Prof. Dr. H. Mansyur Ramly
ii
iii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT serta dukungan dan partisipasi berbagai pihak
akhirnya Naskah Pedoman Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa telah rampung.
Naskah ini merupakan salah satu hasil dari program 100 hari yang diamanahkan kepada
Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional Kabinet Bersatu II.
Kebijakan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dicanangkan berdasarkan masukan
dari Masyarakat, pengembangan telah dilakukan bersama oleh Badan Penelitian dan
Pengembangan dan beberapa Unit Utama di lingkungan Kementrian Pendidikan Nasional
serta kantor Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Upaya yang telah dilakukan
masyarakat dan lembaga terkait berupa pemikiran tentang pendidikan nilai, moral, dan
karakter bangsa telah dikembangkan dan dilaksanakan dalam skala yang manageable
sesuai dengan kemampuan lembaga terkait dan dukungan kebijakan pemerintah. Pada saat
sekarang, kebijakan pemerintah merupakan bukan saja dukungan tetapi juga unsur yang
berperan aktif dalam pengembangan budaya dan karakter bangsa.
Berdasarkan kajian terhadap masukan dari masyarakat baik melalui media massa, seminar,
sarasehan, kajian literatur, maupun upaya langsung dalam melaksanakan pendidikan nilai,
moral, budaya, dan karakter, Badan Penelitian dan Pengembangan menyusun naskah
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Pikiran tentang Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa yang tercantum dalam naskah yang ada di hadapan para pendidik dan peminat
pendidikan ini merupakan pikiran yang bersifat praktis dan dapat dilaksanakan dalam
suasana pendidikan yang ada di sekolah pada saat sekarang. Meskipun demikian,
pelaksanaan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa memerlukan berbagai perubahan
dalam pelaksanaan proses pendidikan yang terjadi di sekolah pada saat sekarang.
Perubahan yang diperlukan tidak mengubah kurikulum yang berlaku tetapi menghendaki
sikap baru dan keterampilan baru dari para guru, kepala sekolah dan konselor sekolah.
Sikap dan keterampilan baru tersebut merupakan persyaratan yang harus dipenuhi (condito
sine qua non) untuk keberhasilan implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
Perubahan sikap dan penguasaan keterampilan yang dipersyaratkan tersebut hanya dapat
dikembangkan melalui pendidikan dalam jabatan yang berfokus, berkelanjutan, dan
sistemik.
Karakter sebagai suatu moral excellence atau akhlak dibangun di atas berbagia kebajikan
(virtues) yang pada gilirannya hanya memilikimakna ketika dilandasi atas nilai-nilai yang
berlaku dalam budaya (bangsa). Karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang dimiliki
warga Negara Indonesia berdasarkan tindakan-tindakan yang dinilai sebagai suatu
kebajikan berdasarkan nilai yang berlaku di masyarakat dan bangsa Indonesia. Oleh karena
itu, Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa diarahkan pada upaya mengembangkan nilainilai
mendasari suatu kebijakan sehingga menjadi suatu kepribadian diri warga Negara.
Berbeda dari materi ajar yang bersifat mastery, sebagaimana halnya suatu performance
content suatu kompetensi, materi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa bersifat
developmental. Perbedaan hakekat kedua kelompok materi tersebut menghendaki
perbedaan perlakuan dalam proses pendidikan. Materi pendidikan yang bersifat
developmental menghendaki proses pendidikan yang cukup panjang dan bersifat saling
menguat (reinforce) antara kegiatan belajar dengan kegiatan belajar lainnya, antara proses
belajar di kelas dengan kegiatan kurikuler di sekolah dan di luar sekolah.
Disamping persamaan dalam kelompok, materi belajar ranah pengetahuan (cognitive) yang
dalam satu kelompok developmental dengan nilai, antara keduanya terdapat perbedaan
yang mendasar dalam perencanaan pada dokumen kurikulum (KTSP), silabus, RPP, dan
proses belajar. Materi belajar ranah pengetahuan dapat dijadikan pokok bahasan sedangkan
materi nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa tidak dapat dijadikan pokok
bahasan karena mengandung resiko akan menjadi materi yang bersifat kognitif. Oleh
karena itu, dalam pengembangan materi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa sikap
menyukai, ingin memiliki, dan mau menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai dasar bagi
tindakan dalam perilaku kehidupan peserta didik sehari-hari merupakan persyaratan awal
yang mutlak untuk keberhasilan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
Proses Pembelajaran Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dilaksanakan melalui proses
belajar aktif. Sesuai dengan prinsip pengembangan nilai harus dilakukan secara aktif oleh
peserta didik (dirinya subyek yang akan menerima, menjadikan nilai sebagai miliknya dan
menjadikan nilai-nilai yang sudah dipelajarinya sebagai dasar dalam setiap tindakan) maka
posisi peserta didik sebagai subyek yang aktif dalam belajar adalah prinsip utama belajar
aktif. Oleh karena itu, keduanya saling memerlukan.
Selain sebagai pedoman untuk pelaksanaan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa,
naskah ini dilengkapi juga dengan indikator sekolah dan indikator kelas yang dianggap
kondusif dalam penerapan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Kepada guru, kepala
sekolah, konselor sekolah dan pengawas dapat menggunakan indikator tersebut sebagai
pedoman dalam mengembangkan dan menilai budaya sekolah yang kondusif untuk
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.
Semoga naskah ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh guru, kepala sekolah, konselor
sekolah, pengawas dan pihak lain yang terkait.
Akhirnya kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan
berpartisipasi dalam penyusunan naskah ini. Kami doakan semoga semua dukungan dan
partisipasi berupa pikiran, tenaga, waktu dan materi bernilai ibadah di sisi Tuhan Yang
Maha Kuasa. Amin.
Jakarta, Januari 2010
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Prof. Dr. H. Mansyur Ramly
ii
iii
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN
KARAKTER BANGSA
Pengarah:
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan
Kepala Pusat Kurikulum
Penanggung Jawab Kegiatan:
Erry Utomo, Ph.D
Wakil Penanggung Jawab Kegiatan:
Drs. Sutjipto, M.Pd.
Tim Penulis Naskah:
Ketua:
Prof. Dr. Said Hamid Hasan
Anggota:
Prof. Dr. Abdul Aziz Wahab
Prof. Dr. Yoyok Mulyana
Drs. M. Hamka, M.Ed
Drs. Kurniawan, M.Ed
Drs. Zulfikrie Anas, M.Ed
Dra. Lili Nurlaili, M.Ed
Dra. Maria Listiyanti
Drs. Jarwadi, M.Pd
Dra. Maria Chatarina
Drs. Heni Waluyo, M.Pd
Drs. Sapto Aji Wirantho
Dra. Suci Paresti, M.Ed
Drs. A. Buchori Ismail
Sekretaris Kegiatan:
Erlina Indarti, ST
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan
itu mengenai berbagai aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media
cetak, wawancara, dialog, dan gelar wicara di media elektronik. Selain di media massa,
para pemuka masyarakat, para ahli, dan para pengamat pendidikan, dan pengamat
sosial berbicara mengenai persoalan budaya dan karakter bangsa di berbagai forum
seminar, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang
muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan,
perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupn politik yang tidak
produktif, dan sebagainya menjadi topik pembahasan hangat di media massa, seminar,
dan di berbagai kesempatan. Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti
peraturan, undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan hukum yang
lebih kuat.
Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi,
masalah budaya dan karakter bangsa yang dibicarakan itu adalah pendidikan.
Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan
membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat
preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda
bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab
berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari
pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki
daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat.
Kurikulum adalah jantungnya pendidikan (curriculum is the heart of education). Oleh
karena itu, sudah seharusnya kurikulum, saat ini, memberikan perhatian yang lebih
besar pada pendidikan budaya dan karakter bangsa dibandingkan kurikulum masa
sebelumnya. Pendapat yang dikemukakan para pemuka masyarakat, ahli pendidikan,
para pemerhati pendidikan dan anggota masyarakat lainnya di berbagai media massa,
iv
1
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN
KARAKTER BANGSA
Pengarah:
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan
Kepala Pusat Kurikulum
Penanggung Jawab Kegiatan:
Erry Utomo, Ph.D
Wakil Penanggung Jawab Kegiatan:
Drs. Sutjipto, M.Pd.
Tim Penulis Naskah:
Ketua:
Prof. Dr. Said Hamid Hasan
Anggota:
Prof. Dr. Abdul Aziz Wahab
Prof. Dr. Yoyok Mulyana
Drs. M. Hamka, M.Ed
Drs. Kurniawan, M.Ed
Drs. Zulfikrie Anas, M.Ed
Dra. Lili Nurlaili, M.Ed
Dra. Maria Listiyanti
Drs. Jarwadi, M.Pd
Dra. Maria Chatarina
Drs. Heni Waluyo, M.Pd
Drs. Sapto Aji Wirantho
Dra. Suci Paresti, M.Ed
Drs. A. Buchori Ismail
Sekretaris Kegiatan:
Erlina Indarti, ST
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan
itu mengenai berbagai aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media
cetak, wawancara, dialog, dan gelar wicara di media elektronik. Selain di media massa,
para pemuka masyarakat, para ahli, dan para pengamat pendidikan, dan pengamat
sosial berbicara mengenai persoalan budaya dan karakter bangsa di berbagai forum
seminar, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang
muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perusakan,
perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupn politik yang tidak
produktif, dan sebagainya menjadi topik pembahasan hangat di media massa, seminar,
dan di berbagai kesempatan. Berbagai alternatif penyelesaian diajukan seperti
peraturan, undang-undang, peningkatan upaya pelaksanaan dan penerapan hukum yang
lebih kuat.
Alternatif lain yang banyak dikemukakan untuk mengatasi, paling tidak mengurangi,
masalah budaya dan karakter bangsa yang dibicarakan itu adalah pendidikan.
Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan
membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat
preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda
bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab
berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari
pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu yang tidak segera, tetapi memiliki
daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat.
Kurikulum adalah jantungnya pendidikan (curriculum is the heart of education). Oleh
karena itu, sudah seharusnya kurikulum, saat ini, memberikan perhatian yang lebih
besar pada pendidikan budaya dan karakter bangsa dibandingkan kurikulum masa
sebelumnya. Pendapat yang dikemukakan para pemuka masyarakat, ahli pendidikan,
para pemerhati pendidikan dan anggota masyarakat lainnya di berbagai media massa,
iv
1